← Semua tulisan

When I was Little - Trip to Istanbul

When I was Little - Trip to Istanbul
Kota di dua benua, kubah yang menantang gravitasi, dan sebuah observatorium yang hanya sempat hidup tiga tahun

Halo semuanya! 👋

Postingan kali ini agak beda. Perjalanan ke Istanbul ini terjadi di waktu yang berbeda dari seri jalan-jalan Eropa.

Tapi kalau boleh jujur: ini kota yang paling mengubah cara aku melihat diri sendiri.

Karena di kota-kota lain, aku selalu jadi penonton. Aku mengagumi karya orang lain dari kejauhan. Di Istanbul, untuk pertama kalinya, aku berdiri di depan sesuatu dan berpikir: "ini bagian dari sejarahku juga."

Trip to Istanbul

Trip to Istanbul

Trip to Istanbul

Trip to Istanbul

Trip to Istanbul

Trip to Istanbul

Trip to Istanbul

Trip to Istanbul

Kalau perjalanan Eropa ngajarin aku tentang orang-orang hebat di masa lalu, Istanbul ngajarin aku sesuatu yang lebih dekat ke rumah:

Aku tidak sedang mengunjungi ilmu orang lain. Aku sedang menemukan bagian dari warisanku sendiri.

Astrolab-astrolab itu dibuat oleh orang-orang yang mempelajari langit sebagian karena iman mereka. Pola-pola di dinding masjid itu adalah matematika yang dipakai untuk menyembah. Dan sebuah observatorium hebat pernah berdiri di kota ini, lalu hilang — mengingatkan bahwa ilmu itu titipan yang harus dijaga.

Aku pulang dari Istanbul dengan satu perasaan baru yang belum pernah aku punya sebelumnya: aku merasa berhak. Berhak menyukai matematika. Berhak menatap langit dan ingin tahu. Bukan karena aku meniru siapa-siapa, tapi karena ini memang jalan yang sudah pernah ditempuh orang-orang sebelum aku.

Dan sekarang giliran aku yang jalan. 🌙

Terima kasih sudah membaca sampai sini. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!

Rayna Amara